Pernah nggak sih kamu merasa dunia sekarang berjalan terlalu cepat? Baru bangun tidur, notifikasi sudah penuh. Buka media sosial, ada orang yang sudah produktif dari pagi, ada yang umur 20-an sudah punya bisnis, ada juga yang hidupnya terlihat rapi dan sukses banget. Dan tanpa sadar, kita jadi ikut terburu-buru. Seolah kalau hidup kita belum “jadi” sekarang, berarti kita tertinggal.
Sekarang semuanya terasa instan. Mau nonton tinggal klik, mau belanja tinggal checkout, mau cari hiburan tinggal scroll tanpa habis. Kita jadi terbiasa mendapatkan sesuatu dengan cepat, sampai akhirnya tanpa sadar kita juga ingin hidup berjalan secepat itu. Ingin cepat berhasil, cepat punya uang, cepat menemukan tujuan hidup, bahkan cepat merasa bahagia.
Masalahnya, hidup nggak selalu bisa dipercepat. Ada hal-hal yang memang butuh waktu. Belajar memahami diri sendiri nggak bisa selesai dalam semalam. Menyembuhkan diri juga nggak sesederhana “move on aja”. Bahkan membangun hidup yang benar-benar kita inginkan sering kali butuh proses panjang yang melelahkan dan membingungkan.
Kadang yang bikin capek sebenarnya bukan prosesnya, tapi karena kita terlalu sering melihat hidup orang lain. Media sosial membuat kita terus membandingkan diri. Kita melihat pencapaian orang lain setiap hari sampai akhirnya merasa semua orang sudah lebih jauh, sementara kita masih jalan di tempat. Padahal yang kita lihat cuma potongan terbaik dari hidup mereka, bukan perjuangan, rasa takut, atau kegagalan yang mereka sembunyikan.
Lucunya, banyak anak muda sekarang sibuk mengejar banyak hal, tapi lupa bertanya ke diri sendiri: “Aku sebenarnya benar-benar mau ini nggak sih?” Karena sering kali yang kita kejar bukan mimpi sendiri, melainkan rasa takut tertinggal dan takut dianggap gagal. Akhirnya hidup terasa seperti perlombaan yang bahkan kita sendiri nggak tahu garis akhirnya di mana.
Padahal tidak semua orang harus sukses di usia yang sama. Tidak semua orang langsung tahu arah hidupnya. Ada yang baru menemukan passion di usia dewasa, ada yang berkali-kali gagal dulu sebelum akhirnya berhasil. Dan itu bukan sesuatu yang salah.
Mungkin kita memang tidak perlu hidup secepat itu. Karena tumbuh pelan tetap tumbuh. Berjalan perlahan tetap membuat kita sampai. Kadang yang paling penting bukan siapa yang paling cepat berhasil, tapi siapa yang bisa tetap bertahan tanpa kehilangan dirinya sendiri di tengah dunia yang terus berlari cepat.
