Pernah nggak kamu merasa kalau rasa syukurmu itu ada syaratnya? “Aku bakal bersyukur kalau proyek ini tembus,” atau “Aku bakal bersyukur kalau gaji aku naik bulan depan.” Seolah-olah bersyukur itu adalah sebuah transaksi kita kasih rasa terima kasih, dan alam semesta wajib kasih kita bonus sebagai imbalannya. Tapi, gimana kalau kondisi sekarang lagi nggak ideal? Gimana kalau pendapatan lagi turun, atau rencana besarmu justru gagal total? Masih bisakah kita bersyukur?
Banyak dari kita yang terjebak dalam pemikiran kalau bersyukur itu tujuannya supaya “nikmatnya ditambah”. Memang nggak salah, tapi kalau fokusnya cuma di situ, rasa syukur kita jadi dangkal. Kita jadi cuma bersyukur saat keadaan lagi enak saja. Padahal, esensi syukur yang sebenarnya adalah penerimaan total terhadap proses. Syukur yang tulus itu nggak peduli angkanya besar atau kecil, tapi lebih ke arah ketenangan batin karena kita merasa “cukup”. Saat kita merasa cukup, angka yang kecil pun bisa terasa berkah dan mencukupi segala kebutuhan. Sebaliknya, tanpa rasa cukup, angka sebesar apa pun di rekening bakal selalu terasa kurang.
Bayangin bedanya syukur transaksional yang contohnya kamu gelisah nunggu “tambahan” karena merasa yang sekarang belum cukup. Dan syukur sejati yang contohnya kamu tenang karena menghargai apa yang ada di tangan hari ini. Kamu percaya kalau setiap proses pahit atau manis adalah bagian dari pendidikan mentalmu.
Saat kamu berhenti memperlakukan syukur sebagai “umpan” untuk dapet rezeki lebih banyak, kamu bakal menemukan keajaiban. Kamu jadi lebih peka melihat hal-hal kecil yang selama ini luput dari perhatian karena kamu terlalu sibuk ngejar yang besar.
Kalau seandainya hidupmu tetap seperti sekarang untuk beberapa waktu ke depan tanpa ada lonjakan sukses yang instan apakah kamu masih bisa tersenyum dan bilang “terima kasih”? Bersyukur itu adalah bentuk kemerdekaan mental. Kamu nggak lagi didikte oleh keadaan luar untuk merasa bahagia. Sudah siap buat berhenti berbisnis dengan rasa syukur dan mulai merasakannya dengan tulus dari dalam hati?
